Posts

Showing posts with the label ProjectLove

Project Love: This is not the end, this is the beginning...

Image
Setelah  pembukaan pameran dan peluncuran bukuku yang begitu menyenangkan , seminggu kemudian diadakan diskusi soal proses pembuatan bukuku. Bang Mosis jadi moderator yang oks banget, meskipun didaulat secara mendadak, eheheh. Makasih ya Bang! Untuk teman-teman yang sudah menyempatkan datang, aku juga ucapkan banyak terimakasih. Maaf tidak sempat ngobrol satu-satu yaaa. Mudah-mudahan semua senang dan hasil diskusinya ada yang berguna. Dan akhirnya, pada tanggal 3 Desember 2013, pameran “mail – a love letter“ harus berakhir. Segala macam perasaan bercampur aduk saat menurunkan gambar-gambar dari dinding. Super senang, lega, terharu, juga masih tetap nggak percaya semuanya bisa terlaksana. Terlebih, ia terlaksana seperti yang aku inginkan: kecil namun intim. Membaca semua pesan dan kesan yang masuk juga merupakan kebahagiaan sendiri. Kertas-kertas post-it yang awalnya hanya tertempel beberapa biji di hari pertama, tumbuh menjadi begitu banyak saat hari terakhir. Tulisannya p...

Mail - A Love Letter Review: Catatan Ridzkinoviansyah*

Image
*Pemikiran Ridzki soal pameran "Mail-A Love Letter" bisa dilihat di: sini . Terimakasih, Ridzki :)

Mail-A Love Letter di Media: Exposure

Image
Berita di Exposure tentang pameran foto dan buku Mail-A Love Letter bisa dilihat di: sini

Mobile Photography: Membuat Jatuh Cinta (Lagi!)*

Image
*Tulisan untuk website 1000kata. Bisa dilihat di: sini Saya tak pernah menyangka, kamera dari telepon genggam bisa membuat kecanduan memotret! Terus terang, tidak ada banyak harapan saat pertama kali menggunakannya di penghujung 2011. Terbiasa menggunakan DSLR dengan resolusi bagus dan lensa yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, kamera ponsel terasa ‘ecek-ecek’, tidak serius. Tapi hidup toh tak perlu selalu serius  kan ? Kamera ponsel membuat segalanya santai tanpa beban, cenderung ‘bermain-main’. Menyadari keterbatasannya, saya kerap mengeksplorasi hal-hal yang umumnya tidak saya foto dengan menggunakan kamera SLR: membiarkan imajinasi mengembara lewat foto-foto yang agak menyimpang dari pendekatan fotojurnalistik yang biasa saya lakukan. Siapa sangka, eksplorasi warna, bentuk dan tekstur justru membuat saya lebih memperhatian detail-detail yang biasanya luput dari perhatian. Benda-benda ‘ nggak  penting ’  di sekitar kini menjadi sumber inspirasi yang tidak b...

Mail-A Love Letter di Media: Antara

Image
Berita di Antara bisa dibaca di: sini

Project Love: Pembukaan Pameran Foto dan Peluncuran Buku “mail-a love letter”

Image
Semuanya masih terasa absurd dan belum bisa kucerna dengan baik: bahwa aku menyelenggarakan  pameran foto tunggal dan meluncurkan sebuah buku foto . Acara pembukaan yang dilaksanakan Sabtu, 23 November lalu di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) kemarin begitu menyentuh hati: suasana yang nyaman dan akrab, sahabat-sahabat baik dan obrolan yang menyenangkan sambil menikmati somay gerobak dan rujak segar buatan mama.  I can’t ask for more . Terimakasih semuanya karena sudah datang. Aku. Sangat. Menghargainya. Dan saking senangnya bertemu teman-teman dan ngobrol sana-sini, aku sampai lupa foto-foto suasana pembukaan pamerannya. Jangankan motret, lihat handphone aja nggak inget :). Berikut ini adalah foto-foto seadanya dulu. Oh ya, Sabtu depan, tanggal 30 November 2013, jam 15.00 WIB masih akan ada diskusi tentang bukunya. Kalau ada waktu, silahkan datang ya! Pamerannya sendiri masih berlangsung sampai tanggal 2 Desember 2013. Sampai ketemu! Selamat data...

Project Love: Undangan untuk menghabiskan sore bersama

Image
Teman-teman tersayang... Sejak buku 'mail-a love letter' mulai diluncurkan ke publik, aku merasa benar-benar berbeda. Meskipun ini adalah project kecil yang sederhana, ia ternyata menyentuh banyak hati. Aku terharu menerima respon yang begitu tulus. Aku mendapatkan banyak teman baru, mereka yang mengirimkan email, menghubungi lewat facebook, bahkan menelepon! Tidak hanya itu, aku juga mendapatkan review-review yang membuat mata tiba-tiba memanas dan hati menghangat, serta pesan-pesan penuh apresiasi dan menyemangati. Bahkan, ada yang menghubungi untuk curhat, hal yang membuat geli sekaligus tersanjung :D. Terimakasih ya! Untuk itu, dengan penuh sukacita, aku mengundang kalian semua untuk berbagi kebahagiaan. Kita bisa menghabiskan Sabtu sore bersama-sama. Ngobrol, ngemil dan menikmati foto-fotoku yang diambil dari buku "mail-a love letter". Yang mau curhat, juga dipersilahkan loh :D Aku tunggu yaaa! Galeri Foto Jurnalistik Antara   dan   Dinda Jouhana   m...

Mail - A Love Letter Review: Catatan Anto Pinguin*

Image
*Review dari Anto bisa dilihat di: sini . Terimakasih banyak, Anto :')  

Project Love: A very private book launching…

Image
Pada akhirnya memang lebih baik begini, bukan begitu, sayangku? Kita rayakan ini berdua saja. Tanpa ingar-bingar, tanpa tepukan gemuruh, tanpa lampu-lampu kilat yang menyala tak berjeda. Itu semua selalu bisa menunggu. Saat ini hanya ada kita: kau dan aku setelah enam minggu yang membikin rindu menggebu. Ini ulangtahunmu yang istimewa. Ayo tiup lilinmu! Aku sudah punya kado yang tak biasa. Yang kubuat sendiri dengan sepenuh hati, dengan cinta. Silahkan kau buka sambil kita nikmati potongan strawberry cheesecake dan teh melati dicampur mint yang kau minta. Duduklah yang nyaman disini, disampingku. Bukalah bungkusan bersampul abu-jingga, dengan pita yang tersimpul diatasnya. Aku harap kau suka. Ah, matamu berbinar bahagia! Ya,  itu adalah buku yang kubuat untukmu . Kumpulan foto-foto yang mengingatkanku padamu saat kita jauh. Ditambah kata-kata, ia serupa surat cinta.  Kuberi ia judul “Mail” , yang memang merupakan bagian namamu. Terserah orang hendak membacanya dengan ...

Siap Kirim!

Tanda tangan, cek. Bonus foto, cek. Surat cinta, cek. Packing, cek! Buku "mail-a love letter" siap dikirim! A photo posted by @dindajou on Oct 3, 2013 at 3:11am PDT

Project Love: “mail-a love letter” photobook, Pre-Order Now!

Image
Akhirnyaaaa…. setelah melewati segala halangan, rintangan dan cobaan yang penuh keringat, dan air mata, dengan senang hati aku mengabarkan buku foto perdanaku, “mail – a love letter” sudah bisa dipesan! Yaayy!! Untuk yang pengen tau asal muasal buku ini, bisa lihat ceritanya di posting berlabel ProjectLove . Pada intinya, ini adalah buku yang menggabungkan fotografi, sastra, teknologi komunikasi, desain dan social media. Seluruh foto dalam buku ini diambil dan diedit menggunakan iphone, dan sebagian telah pernah diunggah ke akun instagramku . Harga pre-order buku ini Rp 135.000 , di luar ongkos kirim (normalnya akan menjadi Rp 150.000). Untuk yang pre-order sekarang hingga 3 Oktober 2013 juga akan mendapatkan sebuah foto asli (ukuran postcard) yang ditandatangani , dan kesempatan mendapatkan hadiah spesial yang akan diundi lewat lucky draw ! Yang pasti, semua buku akan mendapatkan kejutan 'personal' dariku. Aduh, aku baik banget yah? Ahahahah!   Bagaimana cara pe...

Project Love: “A friend in need, is the friend indeed”

Image
Seluruh cerita soal ProjectLove bisa dilihat di sini Aku sangat bersyukur karena kali ini aku dikelilingi oleh teman-teman yang yakin pada kemampuanku. Pada banyak kesempatan, aku memang “terlalu keras” pada diri sendiri: selalu merasa tak cukup pintar, tak cukup bagus, tak cukup ini dan itu. Tapi mereka, teman-teman tersayang ini, begitu suportif. Membuat terharu. Jika mereka saja percaya padaku, kenapa aku tidak? Energi positif yang mereka pancarkan membuat aku lebih bersemangat. Bahkan pada sebuah sesi brainstorming (lebih tepat curhat sih sebenarnya, hehehe) yang tak terencana bersama Ari sang desainer grafis, dan Pak Arif Fadillah, fotografer handal yang juga akan menerbitkan buku keren, kami berhasil menemukan judul bukuku! Judulnya… Mail. A love letter. Aih, sedap. Ahahahaha! Kami berkesimpulan, bahwa ini memang bukan sekedar buku foto plus teks. Ini adalah ungkapan hati. Ini adalah buku yang dimaksudkan agar kita mengalami, mengingat kemb...

Project Love: Bola Salju

Image
Seluruh cerita soal ProjectLove bisa dilihat disini Seberapa sering kita memulai sesuatu hanya untuk senang-senang, tapi kemudian malah jadi serius? Sesuatu yang ‘ innocent ’, tanpa ekspektasi, tanpa pretensi, tapi dikerjakan sepenuh hati seringkali melaju seperti bola salju. Makin besar, makin besar dan makin besar. Inilah yang terjadi pada project yang satu ini. Bang Oscar melihat semua foto-fotoku dengan seksama. Malu-malu, aku menceritakan kepadanya maksud dan tujuan dari foto-foto ini. Sambil mendengarkan, tangan dan matanya awas memilih. Mana foto yang layak, mana yang dipinggirkan. Mana yang harus dipasangkan, mana yang harus berdiri sendiri. Sementara, teman-teman yang ada di situ berkomentar tak putus berkomentar tentang foto-fotoku. Mereka mengatakan hal-hal yang membuat hidungku kembang kempis ke-GR-an. Bahkan ada yang nyeletuk , “Diseriusin aja ‘kali, Din!” Artinya, benar-benar dibuat buku dan dicetak banyak, bukan hanya satu untuk si Abang. Aku cuma bisa cengengesan...

Project Love: Pada Mulanya.

Image
Sambungan dari posting sebelumnya   " The best camera is the one that's with you. " - Chase Jarvis Kamera yang terbaik adalah kamera yang selalu dibawa kemana-mana. Dan di saat banyak ‘fotografer’ dengan bangga menenteng lensa sebesar termos (padahal kadang-kadang hanya karena gaya!), aku justru kerajingan kamera Iphone. Kenyataan bahwa ia selalu ada di genggaman dan dapat dengan mudah digunakan, menumbuhkan lagi perasaan excited , sama seperti ketika punya SLR pertama, sepuluh tahun lalu.  Dan terpujilah Instagram karena memberikan tempat penyaluran! Sepanjang tahun 2012, aku dilanda euforianya. Foto-foto yang diambil, ditambah dengan caption penuh cinta (ehem!), menjadikannya semacam kejutan harian yang bisa aku berikan untuk si Abang. Memberikannya sedikit alasan untuk tersenyum, ditengah pekerjaan yang (bisa dibilang sangat) membosankan. Agar ia tau, meskipun kami terpisah jauh, ia selalu ada dalam hatiku.   Lalu ide itu muncul sekitar Agustus 2012, dua bulan...

ProjectLove: My name is Dinda, and I am a hopeless romantic…

Image
“Kamu itu sebenernya hopeless romantic , tapi nggak ngaku aja! Selalu denial !” Dian , sahabatku, melontarkan pernyataan yang membuat aku ternganga dan otak berhenti seketika. Sambil tetap mengunyah martabak telur berkuah kari khas Aceh - makan siang kami - ia membeberkan fakta-fakta dengan santainya. Dan aku cuma bisa membelalakkan mata. Dibesarkan dengan dua saudara laki-laki, aku tak pernah suka segala sesuatu yang ‘perempuan’. Sejak kecil, aku lebih memilih celana ketimbang rok, dan sneakers dibanding heels . Seumur-umur punya baju pink ya baru-baru ini. Sejak dulu aku suka kegiatan outdoor dan berkotor-kotor, tak begitu peduli dengan kulit yang melegam. Aku selalu merasa diriku tomboi dan tidak romantis sama sekali. Tapi ternyata ‘tomboi’ bukan antonim dari ‘romantis’. Menurut pengamatan Dian selama sepuluh tahun persahabatan kami, aku seringkali berlindung di balik ketomboianku. Padahal, aku adalah jenis orang yang dengan mudahnya mengungkapkan perasaan dan tak pern...